Sabtu, 30 April 2016

Teologi Historika

Teologi Historika
Mata Kuliah : Teologi Historika
Bobot : 2 SKS
Semester : VIII
Dosen : Yonas Muanley, M.Th.

Bahan ini diasuh oleh saya ketika saya menjadi dosen tetap di STT Injili Arastamar 1994 -2010. Saya posting bahan ini untuk membantu teman-teman yang sedang mencari bahan pengajaran Teologi Historika.

Standar Kemampuan

Mahasiswa mampu mendekati studi doktrin Kristen dari sudut pandang historis dengan tujuan untuk menguraikan apa yang telah diajarkan atau sedang diajarkan oleh konsili-konsili atau ahli-ahli teologi tertentu yang berwibawa dan menerapkannya dalam siarah berteologi di Indonesia.

Deskripsi Teologi Historis:

Seseorang dapat mendekati studi doktrin Kristen dari sudut pandang historis dengan tujuan untuk menguraikan apa yang telah diajarkan atau sedang diajarkan oleh konsili-konsili atau ahli-ahli teologi tertentu yang berwibawa. Dengan kata lain teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab (PL) dan Gereja sejak Yesus Kristus [PB]. Teologi Historis membahas awal mula, perkembangan, dan penyebaran Agama yang sejati dan juga semua Doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga Sejarah Alkitab, Sejarah Gereja, Sejarah Pekabaran Injil, sejarah Ajaran dan sejarah Pengakuan Iman.
Berdasarkan kemampuan yang ingin dicapai dalam mata kuliah ini maka dirumuskan 5 kompetensi dasar disertai dengan indicator-indikatornya.

Kompetensi Dasar 1:
Teologi Bapa-bapa Gereja sampai Tahun 500 M.
Indikator:
1. Teologi Bapa-bapa Rasuli
Latar belakang konteks berteologi bapa-bapa Gereja: Filsafat Yunani. Teologi Yustinus Martir: Ia berteologi dalam konteks filsafat Yunani. Ia seorang Yunani, lahir di Palestina pada awal abad ke-2. Ia adalah seorang pecinta hikmat/pencari kebenaran. Mula-mula ia mencari kebenaran dalam filsafat Yunani, yaitu dalam filsafat Stoa dengan cara bergabung dengan seorang filsuf Stoa. Namun pencaharian tentang kebenaran (pengetahuannya tentang Allah) tidak bertambah. Kemudian ia mengikuti seorang filsuf aliran Aristoteles namun hasilnya tidak memuaskan, sang filsuf aliran Aristoteles itu meminta upah dari Yustinus. Ia kemudian meninggalkan sang filsuf ini karena menganggap bahwa bahwa sang filsuf ini bukanlah seorang filsuf (pencari kebenaran alias pencari upah). Kemudia ia berusaha menjadi pengikut aliran Pythagoras, akan tetapi persyaratan dari aliran ini ialah bahwa Yustinus harus belajar music, astronomi, dan geometri sebelum belajar filsafat (belajar kebenaran). Ia kemudian meninggalkan aliran ini karena merasa tidak sabar, ia inging cepat menemukan kebenaran itu (pengetahuannya tentang Allah). Kemudian ia bergabung dengan seorang pengikut aliran filsafat Platonisme yang terkenal. Dalam aliran filsafat ini ia mengalami kemajuan-kemajuan. Ia mencatat kemajuan dari hari ke hari. Ia bangga lalu menilai kemajuannya terlalu tinggi dan mengharapkan langsung bertemu dengan kebenaran (langsung bertemu dengan Allah). Pada saat itu ia berjumpa dengan seorang tua dekat laut. Orangtua itu memperkenalkannya dengan Perjanjian Lama dan dengan Kristus.
Kemudian Yustinus menjadi Kristen, karena melihat bahwa “hanya filsafat inilah satu-satunya yang aman dan menguntungkan.
Yustinus adalah seorang Kristen yang mencari pendekatan antara agama Kristen dan filsafat Yunani, dengan kesimpulannya tentang agama Kristen:

Teologinya:

Agama Kristen adalah pemenuhan dari segala yang terbaik dalam filsafat, khususnya dalam ajaran Platonisme. Ia menggambarkan bahwa Kristus bukan sebagai yang diluar filsafat Yunani, akan tetapi sebagai kegenapan dari segala yang terbaik dari pemikiran Yunani.
Ini dicapainya dengan menggarap konsep Logos (firman), di dalamnya semua orang ikut berpartisipasi. Ia berpendapat bahwa Plato dan filsuf-filsuf lainnya meminjam beberapa di antara ide mereka dari Perjanjian Lama. Kami diajar bahwa Kristus adalah Anak sulung dari Allah dan kami telah mengatakan di atas bahwa Ia adalah Firman (atau akal) yang semua orang mengambil bagian di dalamnya. Mereka yang hidup secara akali (dengan logos/firman) adalah orang Kristen. Walaupun mereka disebut ateis.
Saya bangga dan berusaha sekuat tenaga untuk dipandang sebagai orang Kristen. Bukan karena ajaran Plato lain dari pada ajaran Kristen, tetapi karena tidakseluruhnya sama. Sama halnya dengan pengikut-pengikut ajaran Stoa, para pujangga dan sejarawan. Karena masing-masing berbicara dengan baik menurut bagian yang ia miliki dari Firman (Firman/logos/akal) yang berbuah itu, dan melihat hubungan-hubungannya… segala yang telah dikatakan dengan benar oleh siapa pun adalah milik kami orang Kristen. Karena, disamping Allah kami memuja dan mengasihi Firman, yang adalah dari Allah, yang tidak diciptakan dan yang kebesaran-Nya tak terhingga; karena Ia telah menjadi manusia demi kita dan turut menderita bersama kita agar Ia dapat membawa kesembuhan bagi kita. Sebab, semua penulis-penulis itu dapat menyingkap tabir kenyataan melalui benih yang ditanam oleh Firman dalam diri mereka.

Yustinus juga menyatakan bahwa: “Kristus jauh lebih unggul dari Sokrates. “Karena tidak seorang percaya kepada Sokrates sehingga bersedia mati karena ajarannya. Tetapi Kristus … bukan saja filsuf-filsuf dan cendekiawan yang percaya kepada-Nya, tetapi juga perajin-perajin dan orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan melihat kejayaan sebagai kekejian, lagi pula mereka tidak diburu rasa takut dan takut akan kematian. Yustinus pun akhirnya menjadi martir karena mempertahankan imannya kepada Kristus.

Teologi Irenaeus:

Ia berteologi dalam konteks perlawanan terhadap bidat (ajaran sesat) pada abad ke-2 yaitu Gnotisisme Ia adalah orang Yunani yang lahir di Asia Kecil dari keluarga Kristen. Pada waktu ia menjadi pemuda ia pindah ke Lyon di Gallia (Perancis) dan menjadi Presbiter di sana pada tahun 177 Ireneus dipengaruhi oleh Yustinus. Ia menjadi jembatan antara teologi Yunani purba dan teologi Latin Barat, yang dimulai oleh Tertullianus.
Sumbangannya ialah pembuktian ketidakbenaran ajaran sesat dan pemaparan kekristenan rasuli. Ia menulis sebuah karya yang penting yaitu Sangkalan dan penggulungan dari apa yang secara salah disebut Pengetahuan (gnosis), yang umumnya dikenal dengan judul singkatnya “Melawan ajaran-ajaran sesat”. Tulisan ini khusus ditujukkan kepada aliran Gnostik. Penganut Gnostik percaya pada satu Allah Yang Maha Tinggi yang jauh dari dunia ini. Ia tidak turut serta dalam penciptaannya. Penciptaan itu adalah hasil dari ilah yang lebih rendah, yaitu Allah Perjanjian Lama. Antara dunia yang jahat ini dengan Allah Yang Maha Tinggi terdapat hirarki mahluk-mahluk ilahi. Kalau tubuh kita, karena bersifat jasmani , merupakan bagian dari dunia ini, maka jiwa kita merupakan bunga api yang terperangkap dalam tubuh kita. Keselamatan terjadi kalau jiwa kita membebaskan diri dari tubuh kita dan menuju ke alam di atas sana. Untuk sampai kepada Allah, maka jiwa itu harus melampaui alam-alam di atas dunia ini, yang dikuasai oleh bintang-bintang dan planet-planet yang kemungkinan besar bermusuhan. Keselamatan dicapai karena pengetahuan (Yunani gnosis).

Menurut ilmu gaib sederhana gnosis diartikan pengetahuan mengenai kode-kode untuk melewati mahluk-mahluk ilahi dalam perjalanan menuju Allah. Ajaran gnotisisme berbeda secara radikal dari ajaran Kristen ortodoks. Gnostik juga mendasarkan diri pada tradisi-tradisi rahasia yang katanya diterima dari salah satu rasul.
Dalam konteks inilah Ireneus berteologi dalam pendekatan apologet sbb:
Ø Hanya dengan menggambarkannya kita sudah menyangkal doktrin-doktrin itu (gnostik) Ø Ia mempertanyakan keyakinan-keyakinan Gnostik berkenaan dengan tradisi-tradisi rasuli yang rahasia. Ia mengemukakan bahwa jika ada ajaran-ajaran khusus para rasul yang perlu diteruskan, tentu saja mereka meneruskannya kepada jemaat-jemaat yang mereka dirikan. Ia menunjukkan kepada berbagai jemaat berbeda-beda yang didirikan para rasul, bahwa ajaran-ajaran mereka terus menerus diturunkan di depan umum, tanpa terputus-putus.

Ø Untuk menunjang pendapatnya, Ireneus membuat daftar dari pemimpin-pemimpin gereja yang telah diangkat oleh para rasul. Di samping itu gereja-gereja tersebut, yang tersebar di seluruh kekaisaran semuanya mengajarkan doktrin yang sama.
Pokok-pokok pertikaian antara agama Kristen ortodoks dan aliran Gnostisisme yaitu pada: 1. Apakah kemungkinan untuk mendapatkan kekristenan rasuli itu lebih besar di jemaat-jemaat rasuli yang ajarannya selalu terbuka dan berkesinambungan sejak mereka didirikan serta yang sama di semua jemaat ataukah 2. Di antara penganut-penganut Gnostisisme, yang klaimnya bahwa mereka memiliki tradisi rasuli belum belum dapat diteliti kebenarannya, sebab penuh pertentangan dan tidak cocok satu dengan yang lain?

Argumentasi Ireneus sangat kuat. Jika mereka disangkal oleh Alkitab, mereka berbalik dan mengkritik Alkitab seolah-olah tidak benar dan tidak dapat dipercaya. Agama Kristen ortodoks dan Gnostisisme adalah dua agama dengan dua Alkitab yang berbeda. Persoalannya adalah agama serta Alkitab mana yang berasal dari Kristus dan para rasul? Pertanyaan ini terjawab oleh argument yang dikemukakan Ireneus – sulit dibayangkan bagaimana bisa dijawab lain dari itu (lain dari jawaban Ireneus), yaitu sbb:

Semua orang yang ingin melihat kebenaran jelas dapat merenungkan di setiap jemaat tradisi para rasul yang dinyatakan di seluruh dunia. Kami dapat memberikan daftar dari mereka yang diangkat sebagai uskup oleh rasul-rasul, begitupula mereka yang menggantikannya hingga zaman ini. Mereka tidak mengajarkan ataupun mengetahui sedikitpun tentang ocehan-ocehan yang sesat itu. Seandainya para rasul mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi itu dan biasa memberitahukannya kepada mereka yang sempurna secara tersendiri dan secara rahasia, bukan lebih masuk di akal kalau mereka memberitahukannya kepada orang-orang yang dipercayakannya untuk mengurus jemaat-jemaat. Sebab, mereka menghendaki agar pengganti-penggantinya sempurna tanpa aib.

Ireneus termasuk yang pertama-tama menggunakan istilah Perjanjian Baru di samping Perjanjian Lama. Awalnya “Alkitab” bagi orang Kristen berarti Perjanjian Lama. Tulisan-tulisan para rasul dianggap sah, namun berangsur-angsur dihimpun menjadi Perjanjian Baru. Pada zaman Ireneus, Perjanjian Baru sudah mirip Perjanjian Baru kita, jadi memuat empat Kitab Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat dari Paulus serta tulisan-tulisan lain. Perselihan pendapat mengenai bagian terakhir (Ibrani sampai Wahyu dalam Alkitab kita) masih berlangsung selama beberapa waktu, walaupun tulisan-tulisan yang diterima di manapun dan pada waktu mana pun pasti tidak terlalu berbeda dengan Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang.
Ireneus mendasarkan diri pada tulisan-tulisan para rasul (PB) serta ajaran-ajaran rasuli yang diwariskan (tradisi) kepada gereja-gereja rasuli. Tradisi itu tidak dimaksudkan untuk menambahkan pada pesan yang terkandung dalam PB. Justru karena penganut Gnostisisme tidak dapat menerima PB, Ireneus terpaksa memakai tradisi tersebut untuk memperkuat pendapatnya. Tradisi memberikan ringkasan pokok dari kekristenan rasuli (sebagaimana kemudian terdapat dalam Pengakuan Iman Rasuli misalnya) yang bertentangan dengan pokok kepercayaan kepercayaan Gnostik.

“Gereja, walaupun tersebar ke mana-mana hingga ke ujung dunia, telah menerima dari para rasul serta murid-muridnya kepercayaan ini, yaitu percaya kepada satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, khalik langit dan bumi dan lautan serta segala yang di dalamnya; dan kepada satu Kristus Yesus, Anak Allah yang telah menjadi manusia untuk keselamatan kita; dan kepada Roh Kudus, yang melalui para nabi telah menyatakan pekerjaan penyelamatan Allah bagi umat manusia, serta pada kedatangan, kelahiran dari seorang dara, penderitaan, kebangkitan dari antara orang mati dan kenaikan secara badani dari Tuhan kita Yesus Kristus yang terkasih dan kedatangan-Nya yang kedua kali dari sorga dengan kemuliaan Sang Bapa untuk memenuhi segala sesuatu dan untuk membangkitkan semua daging manusia supaya … Ia menghakimi semua orang dengan adil
Tertulianus (Bapa Teologi Latin)
Ia lahir di Kartago (kota Tunis zaman modern) tahun 160. Ia berasal dari keluarga Romawi kafir. Ia dididik dalam ilmu retorika dan ilmu hukum. Pernah berpraktek sebagai ahli hukum di kota Roma dan menjadi Kristen tahun 197. Ia adalah orang Kristen pertama yang penting, yang telah menulis dalam bahasa Latin. Ia adalah Bapa teologi Latin, Barat. Bersama dengan Origenes, Tertulianus merupakan penulis Kristen terbesar abad ke-2 dan ke-3
Orang Kafir suka membaca karya-karyanya hanya karena gayanya yang begitu menarik (hamper setiap kata yang diucapkannya merupakan epigram dan setiap kalimat adalah satu kemenangan, atau Tertulianus memiliki sesuatu yang jarang dimiliki ahli-ahli teologi, ia tidak pernah membosankan. Tertulianus selalu menulis sebagai seorang advokat atau pengacara, ia membela posisinya dan menyerang saingan-saingannya. Ia seorang apologet yang tidak pernah minta maaf. Tujuannya selalu membawa kemusnahan total bagi lawan-lawannya. Namun ia tidak pernah menaruh dendam ataupun tidak jujur.
Ia berdebat dengan segala keahlian hukumnya melawan praktek tidak adil yang menghukum matai orang-orang beriman hanya karena mereka Kristen.
Kami hanyalah orang kemarin, namun kami telah mengisi semua tempat-tempatmu-kota, pulau, benteng, kota kecil, pasar, perkemahan, kami ada pada suku-sukumu, perusahan, istana senat serta forummu. Tak satu tempat pun kami tinggalkan kepada kalian, kecuali kuil-kuil ilah-ilahmu.
Sebutan perpecahan patut diberikan (bukan kepada orang Kristen tetapi) kepada mereka yang bermufakat untuk memfitnah orang-orang baik dan berkebajikan, mereka yang berteriak-teriak menuntut darah orang yang tidak bersalah. Mereka membenarkan permusuhan mereka dengan alasan yang tidak berdasarkan fakta, bahwa orang Kristen adalah penyebab setiap malapetaka, setiap penderitaan bangsa. Kalau Sungai Tiber naik sampai ke dinding-dinding kota atau Sungai Nil tidak naik sampai ke lading; kalau langit berhenti berputar atau dunia bergerak; kalau ada bencana kelaparan atau penyakit sampar, langsung orang berseru: “Lemparkan ke singa orang Kristen itu”. Apa? Sebegitu banyak orang Kristen hanya kepada satu Singa.v Kekejamanmu (terhadap kami), betapapun unggulnya, tidak menguntungkan bagimu. Sesungguhnya ia justru menarik orang untuk bergabung dengan golongan kami. Setiap kali Anda membabat kami, jumlah kami malah bertambah. Darah orang Kristen adalah benih [gereja] … Sebab, siapakah pada waktu melihatnya tidak tergerak untuk menerima iman kami. (Tony Lane. 2007:14-15).

Sikapnya terhadap ajaran sesat 1. Terhadap aliran Gnostisisme yang terungkap dalam karya Dogmatis melawan ajaran-ajaran sesat. Dalam bukunya Adversus Marcionem (melawan Marcion)
2. Terhadap Montanus. Mula-mula Tertulianus menyokong aliran utama, yaitu Gereja Katolik, tetapi menjelang tahun 207 ia menjadi kecewa dengan pemimpin gereja lalu mulai berbicara memihak Montanisme (Nubuat Baru).
3.Filsafat Yunani. Tertulianus menganggap filsafat Yunani sebagai sumber ajaran sesat. Ia menekankan sifat paradoksal dari iman dan kontras antara agama Kristen dan filsafat. Disini ia berbeda dengan Yustinus dan para apologet terdahulu. Selanjutnya Tertulianus menyatakan: Apa gerangan hubungan Atena dan Yerusalem? Persesuaian apa yang ada antara Akademi dan Gereja? Apa hubungan orang sesat dengan orang Kristen? Petunjuk-petunjuk kami berasal dari serambi Salomo. Ia sendiri yang mengajar untuk mencari Tuhan dengan kesederhanaan hati. Enyahlah usaha-usaha menciptakan kekristenan stoic, platonic dan dialektis. Kami tidak menginginkan perdebatan yang aneh-aneh setelah menerima Yesus Kristus, tidak pula spekulasi-spekulasi setelah menerima Injil. Karena iman kami, kami tidak lagi menghendaki kepercayaan-kepercayaan lain. Karena inilah keyakinan kami yang terutama: tiada lagi yang perlu dipercaya disamping iman kami. Anak Allah telah disalib. Aku tidak malu karena tindakan itu memalukan. Anak Allah mati. Hal itu dapat dipercaya karena tidak masuk akal. Ia dikuburkan dan bangkit kembali. Ini pasti karena tidak mungkin.

4.Ia melawan Monarkianisme. Pengikut aliran ini menitik beratkan “monarki” atau pemerintahan tunggal dari Allah- mereka adalah monoteis keras. Mereka memperdaya doktrin Trinitas dengan ajaran Sang Bapa adalah Anak adalah Roh Kudus, sama seperti saya sebagai ayah yang juga suami dan penulis. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga nama yang berlainan untuk tokoh yang sama yang memainkan tiga peranan yang berlainan-bukan tiga nama untuk tiga tokoh yang berbeda. Salah satu penganut monarkianisme adalah Praxeas. Dalam melawan Praxeas, Tertulianus menyatakan bahwa: Allah adalah satu zat atau hakikat dalam tiga pribadi. Tertulianuslah yang menciptakan istilah-istilah yang nantinya dipergunakan dalam rumusan-rumusan mengenai doktrin Ketritunggalan dan Inkarnasi.

Clemens dari Alexandria

Nama lengkapnya Titus Flavius Clemens. Dilahirkan dari keluarga kafir Yunani pada pertengahan abad ke-2. Setelah bertobat (menjadi Kristen), ia mengembara dan belajar pada sejumlah guru Kristen. Ia sangat senang dengan gurunya yang ke-6 dan terakhir: Pantaenus, yang mempunyai sekolah filsafat Kristen di Alexandria. Clemens tinggal padanya dan kemudian tahun 190 menggantikannya. Ia meninggalkan Alexandria pada waktu terjadi penganiayaan pada tahun 202/203 dan tidak kembali lagi. Ia meninggal di Asia Kecil sebelum tahun 216. Pantaenus adalah wakil pertama gereja Kristen Ortodoka di Mesir.

Konteks berteologi Clemens

Mesir pada abad ke-2 merupakan sarang Gnostik. Banyak pemimpin Gnostik berasal dari atau mengajar di Mesir. Sebalinya, Pantaenus, adalah wakil pertama gereja Kristen Ortodoks di Mesir yang kita ketahui sekarang. Menghadapi ancaman pihak Gnostik yang melanda mereka, pengikut gereja ortodoks di Mesir memilih untuk hidup tanpa dikenal, tanpa pembaruan. Mereka cukup hidup beriman sambil mengelak pertanyaan yang berbelit-belit. Pantaenus, dan kemudian Clemens, berusaha menyampaikan suatu corak ortodoksi yang secara intelektual dapat bertahan terus. Mereka beriktiar menunjukkan, bahwa orang dapat saja menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan filsafat dan intelek tanpa jadi murtad.

Sikapnya terhadap filsafat Yunani

Sama seperti Yustinus ia melihat kebenaran dalam filsafat Yunani. Filsafat mempersiapkan orang Yunani bagi Yesus Kristus-sama seperti PL mempersiapkan orang Yahudi. Peringatan Paulus terhadap filsafat (misalnya: Kol. 2:8) dimaksudkan melawan filsafat yang buruk. Sebagian besar pandangan hidup Yunani diterima Clemens, sedangkan ajaran Gnostik dihindarinya.
Sebelum kedatangan Tuhan, orang Yunani memerlukan filsafat untuk kebajikan. Dan kini ia membawa kepada kesalehan. Ia merupakan semacam latihan persiapan bagi mereka yang mendapatkan iman melalui pembuktian … Karena Allah adalah asal dari segala yang baik: ada yang disebabkan secara tidak langsung, seperti filsafat. Mungkin juga filsafat Yunani diberikan kepada orang Yunani secara langsung sampai pada saat Tuhan memanggil mereka. Sebab filsafat adalah guru yang membawa pikiran orang Yunani kepada Kristus, sama seperti Taurat (PL) membawa pikiran orang Yahudi. Jadi, filsafat merupakan persiapan, yang meluruskan jalan bagi mereka yang dibawa ke kesempurnaan dalam Kristus (Tony Lane. 2007:14-15).

Terhadap Ajaran Sesat

Ia mengajar bahwa menghindari ajaran sesat tidak cukup hanya dengan mengatakan anti ajaran itu. Kita harus menghayatinya dalam hidup kita. Berlawanan dengan Docetisme yaitu pandangan bahwa Yesus Kristus hanya kelihatan sebagai manusia, Clemens membenarkan bahwa Yesus Kristus benar-benar mempunyai tubuh jasmani dan bahwa Ia makan dan minum.
2. Teologi Origenes
3. Teologi Cyprianus
4. Teologi Eusebius dari Kaisarea: hlm. 22 – lihat pendapatnya ttg Konstantinus
5. Teologi kesendirian serempak kebersamaan 1: Konsili Nicea, hlm. 23

Konsili Nicea tahun 325 diadakan sebagai reaksi atas ajaran-ajaran Arius. Arius seorang presbiter di Alexandria. Ia mengatakan bahwa Allah Bapa lebih besar dari Allah Anak, yang pada gilirannya lebih besar dari Roh Kudus.Ia memiliki monoteisme radikal, yaitu hanya Allah Bapa adalah Allah. Melalui putran-Nya Allah menciptakan alam semesta, tetapi putra itu hanya ciptaan dari yang tidak ada. Ajaran Arius ini diteruskan oleh saksi Yehova. Arius ditantang oleh uskupnya, Alexander. Ia memohon pertimbangan dari uskup-uskup lain di Timur dan mendapat dukungan dari beberapa pengikut Origenes, seperti Eusebeus dari Kaisarea. Konflik ini mempengaruhi sang Kaisar Konstantinus untuk memanggil Konsili Nicea yang bersidang pada bulan Juni tahun 325 dibawah pimpinan Kaisar. Sekitar 220 uskup hadir, kebanyakan dari Timur. Konsili mengutuk Arius dan menyusun pengakuan iman anti-Arius, yaitu Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, yang dihasilkan pada Konsili Konstantinopel, tahun 381.

PIN:

Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah, yang diperanakkan dari Bapa, yang dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sejati dariAllah sejati, yang diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat [homoousios] dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu apa yang di sorga dan yang di bumi. .. Dan kepada Roh Kudus (lihat Runtut pijar, hlm. 24).

Konsili ini memformulasi doktrin Tritunggal

Teologi Athanasius:

Melawan Arianisme (pengikut Airus), Ia menyatakan “Keaalahan Yesus Kristus sebagai dasar seluruh iman Kristen”. Arianisme akan mengakibatkan tamatnya agama Kristen. Athanasius memerangi Arianisme dengan senjata apapun yang jatuh ke tangannya, termasuk politik gerejawi.

Pemulihan melalui salib (baca hlm. 27)

6. Teologi Efraim orang Siria: lihat hlm. 29

Bapa kecapi Roh Kudus dari Asia
Teologi Bapa-bapa Kapodokia
Bapa-bapa Kapodokia (terletak di Turki saman sekarang) adalah Basilius dari Kaisarea. Cita-citanya adalah mengintegrasikan segala yang baik dari kebudayaan klasik ke dalam agama Kristen. Basilius lahir dari keluarga Kristen yang kaya sekitar tahun 330. Ia mendapat didikan yang cukup baik dalam ajaran Kristen maupuan kebudayaan klasik dan filsafat.
Teologinya, lihat hlm. 30
Konsili Konstantinopel ………………………………….
Teologi Ambrosius …………………………………….
Teologi Johanes Chrysostomus …………………………
Teologi Hieronymus ……………………………………
Teologi Augustinus ……………………………………..
Teologi Cyrillus dari Alexandria ………………………….
Teologi kesendirian serempak kebersamaan 3: Konsili Efesus ………………………..
Teologi Theodoretus dari Kirus ………………………………………………………
Teologi Leo Agung ……………………………………………..
Teologi Kesendirian serempak kebersamaan 4: Konsili Chalchedon ………………………
Teologi Kepatuhan pada Rasul: Pengakuan Iman Rasuli …………………………………..
Kompetensi Dasar 2: Tradisi Timur Sejak Tahun 500 M.
Indikator:
1. Teologi Dionysius dari Areopagus ………………………………………….
2. Teologi kesendirian serempak kebersamaan 5: Konsili Konstantinopel (553) …………………….
3. Teologi Maximus Sang Syahid ……………………………………
4. Teologi kesendirian serempak kebersamaan 6: Konsili Konstantinopel (680-681) ………………….
5. Teologi Johannes dari Damsyik ……………………………………………………………………….
6. Teoloi kesendirian serempak kebersamaan 7: Konsili Nicea (787) ……………………………………
7. Teologi Simeon Sang Teolog Baru ……………………………………………………………………
8. Teologi Gregorius Palamas ………………………………………………………………………….
9. Teologi Pengakuan Dositheus (1672) …………………………………………………

Kompetensi Dasar 3:

Gereja Barat pada abad Pertengahan Tahun 500 – 1500 M
Indikator:

1. Teologi Keraguan dalam kesendirian dan kebersamaan 1: Pengakuan Iman Athanasius …………..
2. Teologi Boethius …………..
3. Teologi kesendirian menuju kebersamaan 8: Konsili Orange (529) ………………………………
4. Teologi Benedictus ………………………
5. Teologi Gregorius Agung ………………..
6. Teologi Johannes Scotus Eriugena …………….
7. Teologi Anselmus …………………………….
8. Teologi Petrus Abaelardus …………………….
9. Teologi Bernard dari Clairvaux ………………..
10. Teologi Petrus Lombardus …………………….
11. Teologi Joachim dari Fiore ……………………..
12. Teologi kebersamaan 9: Konsili Lateran keempat (1215) ………………….
13. Teologi Franciscus dari Asisi …………………………
14. Teologi Bonaventura …………………………………..
15. Teologi Thomas dari Aquino …………………………..
16. Teologi Johannes Duns Scotus …………………………
17. Teologi William dari Ockham …………………………..
18. Teologi Thomas Bradwardine …………………………..
19. Teologi Johannes Tauler ………………………………..
20. Teologi Catharina dari Sienna …………………………..
21. Teologi John Wyclif ……………………………………..
22. Teologi Johannes Hus ……………………………………
23. Teologi kebersamaan 10: Konsili Firenze ………………..
24. Teologi Thomas a Kempis (1438-1445) …………………..
25. Teologi Gabriel Biel ………………………………………

Kompetensi Dasar 4:
Reformasi dan Reaksi Tahun 1500-1800 M
Indikator: 1. Teologi Desiderius Erasmus …………….
2. Teologi Tradisi Lutheran ………………..
3. Teologi Tradisi Calvinis ………………..
4. Teologi Kelompok Anabaptis ………………
5. Teologi Reformasi Inggris ……………………. 6. Teologi Gereja Roma Katolik (Jawaban Gereja Katolik Roma) …………..

Kompetensi Dasar 5:
Pemikiran Kristen di Dunia Modern Setelah Tahun 1800 (Teologi Kontemporer)
Indikator:
1. Teologi Liberal …………………
2. Teologi Evangelical ……………..
3. Teologi Ortodoksi Baru …………..
4. Teologi Para Ekstensialis …………..
5. Teologi Proses, teologi pengharapan, iman yang berakar dalam sejarah, teologi feminis ………….
6. Teologi Kontra Reformasi (pihak Katolik Roma) ……………..
7. Teologi Marthin Luther King …………………
8. Teologi Kusuke Koyama …………………….
9. Teologi John Mbiti ………………………….
10. Teologi Pembebasan ………………………….

Selasa, 26 April 2016

Konsep Kerangka Berpikir

Konsep Kerangka Berpikir
Dalam penelitian ilmiah kita selalu berusaha untuk merumuskan kerangka berpikir di Bab II. Jika demikian apa sesungguhnya kerangka berpikir itu dan bagaimana contoh kerangka berpikir 3 variabel.
Saya mulai dengan menjelaskan pengertian Kerangka Berpikir. Kerangka Berpikir dalam Bab II penelitian Skripsi dan Tesis serta disertasi adalah penjelasan sementara terhadap suatu gejala yang menjadi objek permasalahan yang diteliti. Kerangka berpikir iini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan atau terkait. 

Kerangka berpikir ini merupakan suatu argumentasi penulis yang akan menghantar pada perumuskan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis, argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif (untuk metode kuantitatif) dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis premis dasarnya. 

Kerangka berpikir merupakan buatan penulis, bukan dari pendapat orang lain. Dalam hal ini, bagaimana cara kita berargumentasi dalam merumuskan hipotesis. Argumentasi itu harus membangun kerangka berpikir yang merujuk pada pernyataan-pernyataan yang disusun sebelumnya.
Dalam hal menyusun suatu kerangka berpikir, sangat diperlukan argumentasi ilmiah yang dipilih dari teori-teori yang relevan atau saling terkait. Agar argumentasi kita diterima oleh sesama ilmuwan, kerangka berpikir harus disusun secara logis dan sistematis. 

Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir


Kerangka berpikir yang meyakinkan hendaklah memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut. 

1.      Teori yang digunakan dalam berargumentasi hendaknya dikuasai sepenuhnya serta mengikuti perkembangan teori yang muktahir. <br/>

2. Analisis filsafat dari teori-teori keilmuan yang diarahkan kepada cara berpikir keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut harus disebutkan secara tersurat semua asumsi, prinsip atau postulat yang mendasarinya. 

Penyusunan kerangka berpikir dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan ini akhirnya melahirkan suatu kesimpulan. Kesimpulan tersebut yang menjadi rumusan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap pemecahan masalah penelitian kita. 

Contoh Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika (Y). Kerangka logis hubungan antara variable-variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 

Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen dengan Efektivitas Proses Pembelajaran kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley) 



Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kompetensi mengajar dosen merupakan bagian integral yang menyatu dalam diri dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sehingga kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif.
Jika ditarik ke dalam konteks penelitian ini, para dosen yang menghendaki terjadinya proses pembelajaran yang efektif hendaknya memiliki sejumlah kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam hal ini kompetensi mengajar dosen merupakan seperangkat karakteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya mencapai tujuan pembelajaran yang dialami mahasiswa. Karakteristik tersebut cendrung tidak tampak secara nyata, namun dapat diamati secara berkesinambungan. Sesuai dengan persyaratan atau ketetapan yang telah dinyatakan sebelumnya, terdapat 10 karakteristik kompetensi mengajar dosen. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik kompetensi mengajar tersebut, besar kemungkinan dosen akan dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif. Alasannya adalah bahwa karakteristik-karakteristik ini merupakan modal dasar yang memungkinkan seorang dosen akan melaksanakan tugas mengajar secara efektif. 
Jika faktor kompetensi ini dikaitkan dengan efektifitas proses pembelajaran maka kemampuan tersebut akan membuat seorang dosen mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini berarti bahwa makin tinggi kompetensi yang dimiliki dosen maka besar pula kecendrungan untuk mencapai efektifitas proses pembelajaran. Jadi semakin baik kompetensi yang dimiliki dosen semakin baik pula mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran (pencapai tujuan pembelajaran). Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektivitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. 

1.      Hubungan Motivasi Berprestasi Dosen dengan Efektifitas Proses
 Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari tesis Yonas Muanley) 

Motivasi berprestasi merupakan keinginan dan kecendrungan seorang dosen untuk melaksanakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, baik oleh dosen itu sendiri maupun oleh lembaga atau pihak lain. Dorongan ini terjadi secara internal dan merupakan dinamika atau daya pendorong bagi setiap dosen, secara khusus dosen historika untuk mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang akan diterimanya atau diberikan oleh lingkungan di mana ia bekerja. 
Apa yang dikatakan di atas menegaskan bahwa dosen historika yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain, memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukup menantang atau cukup moderat dan lebih tertarik kepada pencapaian pribadi atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin berhasil dalam situasi persaingan. Dengan kata lain semakin tinggi motivasi berprestasi, semakin tinggi hasrat dan kecendrungan seorang dosen mengerjakan pekerjaan mengajar sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan daya pendorong yang mendasar bagi setiap dosen untuk melaksanakan tugas mengajar sebaikmungkin, tanpa mengharapkan imbalan-imbalan eksternal yang mungkin akan diperolehnya jika berhasil. 

Dosen yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cendrung untuk selalu berusaha unggul, memiliki kecendrungan memilih tugas mengajar yang tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dari pada imbalan yang diperoleh atas keberhasilannya, lebih tertarik pada situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin. Ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianngap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik. 

2.      Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen, Motivasi Berprestasi Secara Bersama-sama dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah Historika di Sekolah Tinggi Theologia .......... (diambil dari Tesis Yonas Muanley) 



Kompetensi mengajar diartikan seperangkat karekteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya melakukan transfer pengetahuan kepada para mahasiswa dan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki mahasiswa tersebut secara lebih optimal dalam arti untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Karakteristik tersebut terkait erat dengan kemampuan mentransfer pengetahuan dan membimbing peserta didik sehingga peserta didik dapat memahami fenomena dirinya dan lingkungannya. Dengan memiliki karakteristik-karakteristik ini, maka diyakini seorang dosen akan dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar  dan sekaligus pendidik karena karakteristik-karakteristik tersebut merupakan modal dasar yang mutlak dimiliki seorang dosen agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. 
Seperti yang diuraikan sebelumnya, untuk melaksanakan tugas mengajar maka seorang dosen harus memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam kompetensi mengajar dosen atau persyaratan profesionalisme dosen. Salah satu dari persyaratan tersebut adalah memiliki ijazah pendidikan keguruan yang formal atau memiliki akta mengajar. Dengan demikian orang yang menjadi dosen telah dipersiapkan terlebih dahulu melalui pendidikan formal. Selain itu dosen harus terus menerus belajar melalui literature atau sumber-sumber yang terkini tentang aspek-aspek pengajaran sehingga ia terus menerus melengkapi diri dengan kemampuan mengajar. Inilah yang disebut kompetensi menghajar dosen. 

Pernyataan terakhir menegaskan bahwa upaya peningkatan kompetensi mengajar dosen setelah melakukan tugas mengajar pada dasarnya terletak pada diri dosen yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena ketika dosen melakukan tugas mengajar mungkin ia tidak ada yang membimbingnya dalam arti ia harus berusaha mengajar tanpa ada dosen senior yang mendampinginya oleh karena itu pengembangan kemampuan mengajar dosen berpulang pada diri dosen tersebut. Jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif meningkatkan kompetensi mengajar dosen ini terletak pada diri dosen. 
            Selain kompetensi yang diuraikan diatas, motivasi berprestasi merupakan hasrat dan kecendrungan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh individu itu sendiri maupun oleh orang lain. Ini terjadi secara internal dan merupakan daya pendorong bagi setiap individu untuk mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan yang bersifat material yang mungkin diberikan oleh lingkungan eksternalnya. 
            Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain sehingga tugas yang dipilihnya tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dan situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin lebih berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianggap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik. 
Sementara efektifitas proses pembelajaran adalah kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan. 
Efektifitas proses pembelajaran tidak lain adalah membandingkan antara hasil atau prestasi yang diperoleh dengan tujuan atau pencapaian tujuan. Ini berarti efektifitas menitikberatkan pada pencapaian tujuan atau hasil yaitu membuat sesuatu yang benar didalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Disini efektifitas proses pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran. 
Efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen menolong mahasiswa dengan prosedur pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan. 
Pencapaian tujuan pembelajaran dalam diri mahasiswa meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), perubahan kemauan (konatif) dan ketrampilan (psikomorik) serta psikospritual (= kemapuan rohani/relasi dengan Tuhan/pertumbuhan rohani. Psikospritual = tambahan untuk perubahan yang diharapkan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi Teologi Jurusan Teologi dan PAK Teologi Jurusan Teologi dan jurusan lainnya yang dikenal dalam lingkungan Sekolah Tinggi Teologi). 
            Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dan motivasi berprestasi dosen, maka makin tinggi pula efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. 
            Penilaian terhadap efektifitas proses pembelajaran dalam penilitian ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, dan untuk menjaga objektivitas data yang diberikan maka dalam penelitian ini juga akan diterapkan tehnik penilaian hal yang sama. Dan untuk membantu mahasiswa dalam memberikan penilaiannya, instrumen pengukur yang digunakan dalam penelitian ini disusun dalam bentuk angket dengan tehnik skala berjenjang (ranting scale) 

Contoh Perumusan Hipotesis Penelitian (dari tesis Yonas Muanley) 


Sesuai dengan kerangka pikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 
(1)   Terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. 
(2)   Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dosen dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, makin tinggi motivasi berprestasi dosen, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. 
(3)   Terdapat hubungan positif kompetensi mengajar dosen, dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata lain, semakin tinggi kompetensi mengajar dosen dan motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama, makin tinggi efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika.  

            

Sukses mengajar dalam format efektivitas Pembelajaran

Sukses mengajar dalam format efektivitas Pembelajaran
Kesuksesan dalam melaksanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen berhubungan dengan banyak faktor. Semua faktor itu diarahkan pada tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran menjadi fokus kegiatan edukatif antara guru dan peserta didik. Istilah yang paling cocok untuk menggambarkan maksud ini yakni "efektivitas pembelajaran".

Pernahkan kita mendengar kata ini? Pasti selalu kita dengar. Lalu apa artinya. Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu dari frasa “effective” yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata efektifitas mempunyai beberapa pengertian yaitu, akibatnya, pengaruh dan kesan, manjur, dapat membawa hasil.(KBI) Sedangkan dalam kamus Ilmiah Populer, efektivitas adalah ketepat gunaan, hasil guna, menunjang tujuan.
Bemard menyatakan bahwa efektivitas organisasi merupakan kemahiran dalam sasaran spesifik dari organisasi yang bersifat objektif (“if it accomplished its specific objective aim”). Selanjutnya Schein dalam bukunya “organizational Psychology mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan juga bertumbuh, lepas dari fungsi-fungsi tertentu yang dimiliki oleh organisasi tersebut.(Widodo, 2002)
Frasa efektivitas dapat dipahami dalam pengertian tercapainya sebuah keberhasilan atau pencapaian tujuan. Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas (hasil) yaitu mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah dicapai. Di mana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Menurut  Yusufhadi Miarso, efektivitas pembelajaran adalah yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para peserta didik atau siswa, melalui prosedur pembelajaran yang tepat. Jadi, menurut definisi ini efektivitas pembelajaran dikenali dari tercapainya tujuan pembelajaran. (Yusufhadi Miarso, 2004)
Selain itu, Astim Riyanto menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran diartikan berhasil guna atau tepat guna, Definisi ini menegaskan efektifitas pembelajaran dalam dua indicator penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan guru. Menurut Gaff dalam Miarso pembelajaran yang efektif meliputi bagaimana membantu peserta didik atau siswa-siswi untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dalam hal ini efektivitas adalah membandingkan antara hasil belajar yang diperoleh dengan tujuan yang telah ditetapkan. Jika tujuan tercapai maka tercapai pula efektivitas. Efektivitas pembelajaran ditandai dengan indikator: 

Pertama, kemampuan mengorganisir bahan pelajaran secara baik. Bagian penting yang perlu ada dalam mengorganisasi materi pelajaran adalah merumusan tujuan pembelajaran. Tujuan ini kini disebut dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, pemilihan bahan pelajaran, kegiatan kelas, pemberian tugas, dan penilaian. Pokok-pokok inilah yang mesti ada dalam komponen proses pembelajaran yang efektif. Pengorganisasian bahan pelajaran adalah kewenangan guru. Maka yang dapat menilai baik atau tidaknya pengorganisasian materi pelajaran adalah para sejawat dalam bidang studi yang bersangkutan, atau ketua program studi, dan siswa. Siswa yang mengikuti pelajaran guru dapat menilai guru dengan cukup tepat. Misalnya siswa dapat menilai: apakah guru  menyajikan bahan pelajaran di dalam cara teratur; apakah guru telah mempersiapkan diri untuk kelasnya, apakah guru  telah menjelaskan pokok yang perlu dipelajari, dan apakahbahan ajar itu memungkinkan untuk dapat diikuti dengan baik.
Kedua Kemampuan berkomunikasi secara efektif. Aspek-aspek yang berkait dengan komunikasi secara efektif dalam pembelajaran pada bagian ini meliputi: strategi dan metode mengajar, pemakaian media untuk menarik perhatian mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Selain itu penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh, kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi guru), dan kemampuan untuk mendengarkan siswa.
Ketiga, Kemampuan dalam Penguasaan dan antusiasme dalam mata pelajaran. Seorang guru dituntut mengetahui materi pelajarannya  dengan baik, agar mudah mengorganisirnya secara sistematis dan logis. Guru mampu menghubungkan isi pelajarannya  dengan apa yang telah diketahui siswa.
Keempat, kemampuan dalam bersikap positif terhadap peserta didik. Sikap positif terhadap siswa dilakukan melalui cara-cara seperti: Apakah guru memberi bantuan jika siswa mengalami kesulitan dengan bahan pelajaran. Apakah guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberi pendapat, Apakah guru dapat dihubungi siswa di luar kelas, Apakah guru  peduli terhadap apa yang dipelajari oleh siswa. 
Kelima, Kemampuan memberi ujian dan nilai yang adil. Sejak awal pelajaran siswa harus mendapat informasi tentang: sistem penilaian yang akan mereka peroleh, seperti: kehadiran mereka dalam kelas, tugas-tugas yang akan dikerjakan, ujian tengah semester dan akhir semester.
Keenam, Kemampuan dalam kesesuaian soal ujian dengan bahan pelajaran yaitu pembuatan soal yang konsisten dengan indicator-indikator dari setiap kompetensi dasar yang telah dibuatnya sebagaimana yang ada dalam kontrak dan silabus serta satuan acara pembelajaran. Kesesuaian soal ujian dengan bahan pelajaran yang diberikan merupakan salah satu indicator keadilan dalam ujian. 
Ketujuh, Hasil belajar siswa yang yang baik. Pelajaran yang diberi kepada siswa diarahkan untuk tercapainya perubahan pada tiga ranah yaitu: kognitif,  afektif, dan psikomotorik. Pedoman yang harus dipegang adalah hasil belajar mahasiswa harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dimaksud dapat berupa perubahan tiga ranah di atas.

Implementasi Pembelajaran Kontekstual kepada peserta didik

Implementasi Pembelajaran Kontekstual kepada peserta didik
Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan kepada peserta didik dengan memberi peran yang lebih menekankan keaktifan pada peserta didik dengan cara:
Pertama, peserta didik mengikuti proses pembelajaran PAK sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun guru dengan perkembangan mental anak didik.
Kedua, peserta didik  bersedia diatur dalam suatu kelompok belajar untuk saling kerjasama dan saling berhubungan satu sama lain.
Ketiga, peserta didik meresponi kesediaan Guru yang telah menyediakan lingkungan belajar anak didik yang dapat mendukung pembelajaran mandiri.
Keempat, peserta didik harus menyadari keberagaman sesame peserta didik, artinya anak didik yang memiliki kemampuan tidak harus menyatu kelompoknya dengan teman yang seimbang, tetapi seorang peserta didik dapat menjadi guru sebaya dengan teman-temannya yang kurang mampu.
Kelima, peserta didik memiliki memotivasi bertanya atau selalu menggunakan kesempatan untuk bertanya, agar dapat memahami serta menghubungkan pengalaman masa lalunya terhadap pengetahuan yang baru ia temukan.
Keenam, peserta didik bersedia belajar lebih bermakna dengan cara menemukan sendiri.
Ketujuh,  peserta didik memanfaatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang pokok-pokok materi serta apa saja yang berkaitan dengan tugas yang telah dirumuskan guru.
Kedelapan, peserta didik menemukan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan, sikap tingkah laku dan keyakinannya pada Tuhan.
Kesembilan, peserta didik bersedia melaksanakan kegiatan inquiri, yaitu bersedia mengerjakan  tugas untuk mencari data tentang “Mengapa kebaktian aliran , kharismatik selalu diikuti dan disenangi oleh para remaja?” Selanjutnya tugas berikut adalah merumuskan jawaban sementara, kemudian mengumpulkan data. Menganalisis, menyimpulkan dan emudian menyajikan hasil temuan di kelas atau di hadapan guru dan teman-teman yang lain.
Kesepuluh, peserta didik mengembangkan sifat ingin tahu terhadap materi yang diajarkan. Misalnya Apa perbedaa baptisan percik dengan baptisan selam?
Kesebelas, peserta didik bersedia belajar dalam bentuk kelompok. Misalnya kelompok Nuh, Kelompok Daud, Kelompok Thomas. Di sini nama kelompok diambil dari nama nabi, rasul, jemaat atau tempat pelayanan Yesus yang ada dalam Alkitab. Dalam setiap kelompok harus saling ada keterkaitan atau ketergantungan, agar proses belajarnya lebih bervariasi dan memungkinkan anak didik saling membutuhkan serta bertukar pengalaman.
Keduabelas, peserta didik mengikuti model  sebagai acuan atau referensi bagi anak didik. Misalnya “ beribadah kepada Tuhan”. Dengan melihat  guru PAK yang rajin ke Gereja. Melalui ketekunan Guru PAK, keikhlasan Guru PAK, kejujuran dan dengan perbuatan nyata Guru PAK setiap saat.
Ketigabelas, peserta didik bersedia mengikuti refleksi pada akhir pertemuan pembelajaran, agar mereka merasakan sesuatu yang bermakna.

Keempatbelas, peserta didik harus mengikuti kemajuan belajar dengan melihat hasil penilaian yang sebenarnya tentang hasil belajar yang diberikan Guru PAK.

Konstruktivisme

Konstruktivisme
Sejarah singkat gagasan pokok aliran konstruktivisme diawali oleh Giambatista Vico, seorang epistemolog Italia. Ia dipandang sebagai cikal bakal lahirnya Konstruktivisme. Vico mengatakan bahwa: Tuhan adalah pencipta. Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahui. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karena Dia pencipta segala sesuatu itu. Manusia haya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan Tuhan. Ini berarti pengetahuan manusia dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari subjek yang mengetahui.(Wijisuwarno, 2008)

Sementara menurut M.Sukardjo dan Ukim Komarudin, menyatakan:  Menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ke-20 dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun, apabila ditelusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambastissta Vico, seorang epistemology dari Italia (Suparno, 1997). Pada tahun 1710, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “ Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Terkait dengan itu, dia menjelaskan bahwa mengetahui bermakna berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Ini berarti bahwa seorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsure-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Menurut Vico, “hanya Tuhan sajalah yang dapat mengerti alam raya ini karena hanya Dia yang tahu bagaimana membuatnya dan dari apa membuatnya. Sementara itu orang hanya dapat mengetahui segala sesuatu yang telah dikonstruksikannya. Bagi Vico, pengetahuan selalu menunjuk kepada struktur konsep yang dibentuk. …pengetahuan tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu.(M.Sukardjo dan Ukim Komarudin, 2009)
Pendekatan atau metode  konstruktivisme dalam pembelajaran didasarkan pada perpaduan antara beberapa penelitian dalam psikologi kognitif dan psikologi sosial, sebagaimana tehnik-tehnik dalam modifikasi perilaku yang didasarkan pada teori operant conditioning dalam psikologi behavioral. Premis dasarnya adalah bahwa peserta didik harus secara aktif membangun pengetahuan dan ketrampilannya dan informasi yang ada diperoleh dalam proses membangun kerangka oleh pelajar dari lingkungan di luar dirinya. Dalam konteks ini maka guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didiklah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri.( H.Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, 2008)
Konstruktivisme adalah proses membangun  atau menyususun pengetahuan baru dalam struktur kognitif anak didik berdasarkan pengalaman. Pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya oleh Jean P Piaget. Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Dalam konteks berpikir yang demikian, Piaget mengemukakan berbagai teori, salah satunya yakni manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya. Oleh karena itu tidak dapat disangkali bahwa pengalaman yang sama bagi seseorang dalam hal ini bagi peserta didik akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu (masing-masing peserta didik) dan disimpan dalam kotak atau struktur yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia/peserta didik. Dengan demikian pada saat manusia/peserta didik  belajar terjadilah dua proses dalam dirinya, yaitu proses organisasi informasi dan proses adaptasi. Proses organisasi yang dimaksud disini adalah proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses organisasi inilah manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatkannya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Sedangkan proses adaptasi adalah proses menggabungkan pengetahuan yang diterima oleh manusia dan mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan struktur pengetahuan baru sehingga terjadi keseimbangan (H.Baharudin dan Esa Nur Wahyuni ).   
Sebagaimana yang dikatakan di atas yakni aliran filsafat  konstruktivisme  berangkat dari pemikiran  epistemology Giambatista Vico. Menurut ungkapan Vico, bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dan ciptaan-Nya. (Wina Sanjaya,  2008).  Berarti seseorang mengetahui sesuatu manakala ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Manusia sebagai subjek yang tahu akan sesuatu dan mengembangkannya guna melangsungkan mengkonstruksikan pengetahuan melalui pengalaman.
Dengan dasar itu, peserta didik dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan berupaya memahami dengan ide-ide yang ia miliki. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik, tetapi mereka harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Melihat hal itu, maka esensi dari teori konstruktivisme adalah ide peserta  didik (seseorang) yang harus menemukan dan mentransformasikan sesuatu informasi kompleks ke situasi lain.
Proses mengkonstruksikan bukan menerima pengetahuan melainkan membangun sendiri pengetahuan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pandangan konstruktifisme, cara memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak peserta didik menghafal atau mengingat pengetahuan yang dipelajari. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan: pertama, menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserrta didik, kedua memberi kesempatan kepada peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan ketiga, menyadarkan peserta didik supaya mampu menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar secara pro aktif.
Pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat, apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi  informasi bermakna yang berbeda-beda.( Depdiknas,) Berarti, pengalaman itu bagi semua orang akan dimaknai  secara berbeda-beda  serta digunakan dalam waktu yang tertentu atau kapan dan dimana sesuai kondisi. Dalam menerapkan filosofi konstruktifisme ini terhadap kegaitan pembelajaran yang penting diketahui, adalah ketika guru atau pendidik  merancang pembelajaran dalam bentuk anak didik bekerja, praktek mengerjakan sesuatu,  berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya.
Prinsip-prinsip pembelajaran dalam pendekatan konstruktivisme melahirkan berbagai model pembelajaran, seperti discovery learning, receptionlearning, assisted learning, active learning, the accelerated learning, quantum learning, dan contextual teaching and learning. Dari model-model pembelajaran ini terdapat pandangan yang sama, yakni bahwa dalam proses belajar peserta didik berlaku aktif kegiatan belajar dengan membangun sendiri pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya (H.Baharudin dan Esa Nur Wahyuni). Pembelajaran lebih difokuskan pada peserta didik, peserta didiklah yang merekonstruksi pengetahuan dengan dipandu oleh guru/pendidik.



Implementasi Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Agama Kristen

Implementasi Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Agama Kristen
1. Guru PAK perlu menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental peserta didik.
      2.      Guru PAK membentuk kelompok belajar peserta didik yang saling kerjasama dan saling berhubungan satu sama lain.
     3.      Guru PAK menyediakan lingkungan belajar peserta didik yang dapat mendukung pembelajaran mandiri.
    4.      Guru PAK  harus mempertimbangkan keberagaman peserta didik, artinya anak didik yang memiliki kemampuan tidak harus menyatu kelompoknya dengan teman yang seimbang, tetapi dia juga dapat menjadi guru sebaya dengan teman-temannya yang kurang mampu.
   5.      Guru PAK memotivasi anak didik agar selalu menggunakan kesempatan untuk bertanya, agar melalui tehnik bertanya anak didik dapat memahami serta menghubungkan pengalaman masa lalunya terhadap pengetahuan yang baru ia temukan.
  6.      Guru PAK  perlu menerapkan penilaian secara proses bagi anak didik, artinya anak didik diperhatikan bagaimana kemampuan dan pemahamannya akan pelajaran yang disajikan selama beberapa waktu
  7.      Guru PAK mengembangkan pemikiran, bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara menemukan sendiri. Sebab itu, anak didik diberi kesempatan untuk mencari tahu tentang pokok-pokok materi serta apa saja yang berkaitan dengan tugas yang telah dirumuskan guru. Anak didik menemukan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan, sikap tingkah laku dan keyakinannya pada Tuhan. Sedangkan guru PAK siap sedia memfasilitasi anak didik dalam memperolehnya.
   8.      Guru PAK melaksanakan kegiatan inquiri. Misalnya, anak didik diberi tugas untuk mencari data tentang “Mengapa kebaktian aliran  kharismatik selalu diikuti dan disenangi oleh para remaja?” Selanjutnya tugas berikut adalah merumuskan jawaban sementara, kemudian mengumpulkan data. Menganalisis, menyimpulkan dan kemudian menyajikan hasil temuan di kelas atau di hadapan guru dan teman-teman yang lain.
   9.      Guru PAK  mengembangkan sifat ingin tahu anak didik dengan cara bertanya atau dengan kata lain komponen bertanya merupakan keahliana dasar yang perlu dibangun dalam diri seseorang anak didik. Misalnya: Apa perbedaa baptisan percik dengan baptisan selam?
   10.  Guru PAK menciptakan masyarakaat belajar dengan membentuk kelompok-kelompok. Seharusnya nama kelompok diambil dari nama nabi, rasul, jemaat atau tempat pelayanan Yesus yang ada dalam Alkitab. Dalam setiap kelompok harus saling ada keterkaitan atau ketergantungan, agar proses belajarnya lebih bervariasi dan memungkinkan anak didik saling membutuhkan serta bertukar pengalaman.
   11.  Guru PAK  memberi  model sebagai acuan atau referensi bagi peserta didik. Misalnya “ beribadah kepada Tuhan”. Sebagai guru harus lebih dahulu member model bagaimana beribadah yang benar kepada Tuhan. Melalui ketekunan, keikhlasan, kejujuran dan dengan perbuatan nyata setiap saat.
  12.  Guru PAK melakukan refleksi pada akhir pertemuan pembelajaran, agar peserta didik merasakan bahwa pada hari itu mereka sudah belajar sesuatu yang bermakna. Misalnya pelajaran yang membahas tentang cara pemeliharaan ciptaan Tuhan, khususnya tumbuh-tumbuhan. Maka di sini guru harus berusaha membangkitkan daya ingat peserta didik akan perbuatan mereka terhadap tumbuh-tumbuhan yang dapat mengganggu kerusakan lingkungan hidup. Bersamaan dengan itu, anak peserta diajak  berjanji kepada Tuhan dalam doa untuk senantiasa memelihara ciptaan Tuhan dengan baik.

  13.  Guru PAK memberi penilaian yang sebenarnya tentang hasil belajar anak didik. Guru PAK menilai peserta didik melalui proses kegiatan yang dilakukannya, bukan hanya dengan tes secara tertulis atau lisan saja. Dalam hal ini perlu dikembangkan berbagai tehnik penilaian sebagaimana cara yang obyektif.