![]() |
| Advertisement |
Dalam penelitian ilmiah kita selalu berusaha untuk merumuskan kerangka berpikir di Bab II. Jika demikian apa sesungguhnya kerangka berpikir itu dan bagaimana contoh kerangka berpikir 3 variabel.
Saya mulai dengan menjelaskan pengertian
Kerangka Berpikir. Kerangka Berpikir dalam Bab II penelitian Skripsi dan Tesis serta disertasi adalah penjelasan sementara terhadap suatu
gejala yang menjadi objek permasalahan yang diteliti.
Kerangka berpikir iini disusun dengan berdasarkan pada tinjauan pustaka dan
hasil penelitian yang relevan atau terkait.
Kerangka berpikir
ini merupakan suatu argumentasi penulis yang akan
menghantar pada perumuskan hipotesis. Dalam merumuskan suatu hipotesis,
argumentasi kerangka berpikir menggunakan logika deduktif (untuk metode
kuantitatif) dengan memakai pengetahuan ilmiah sebagai premis premis dasarnya.
Kerangka berpikir
merupakan buatan penulis, bukan dari pendapat orang
lain. Dalam hal ini, bagaimana cara kita berargumentasi dalam merumuskan
hipotesis. Argumentasi itu harus membangun kerangka berpikir yang merujuk pada pernyataan-pernyataan yang disusun sebelumnya.
Dalam hal
menyusun suatu kerangka berpikir, sangat diperlukan argumentasi ilmiah yang
dipilih dari teori-teori yang relevan atau saling terkait. Agar argumentasi
kita diterima oleh sesama ilmuwan, kerangka berpikir harus disusun secara logis
dan sistematis.
Kerangka
berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel
yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara
variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator
dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut
dilibatkan dalam penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma
penelitian harus didasarkan peda kerangka berpikir
Kerangka
berpikir yang meyakinkan hendaklah memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut.
1.
Teori yang digunakan dalam berargumentasi
hendaknya dikuasai sepenuhnya serta mengikuti perkembangan teori yang muktahir. <br/>
2.
Analisis filsafat dari teori-teori keilmuan yang diarahkan kepada cara berpikir
keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut harus disebutkan secara tersurat
semua asumsi, prinsip atau postulat yang mendasarinya.
Penyusunan
kerangka berpikir dengan menggunakan argumentasi-argumentasi
yang dapat dipertanggungjawabkan ini akhirnya melahirkan suatu kesimpulan.
Kesimpulan tersebut yang menjadi rumusan hipotesis sebagai jawaban sementara
terhadap pemecahan masalah penelitian kita.
Contoh
Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah
terdapat hubungan antara kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen
baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan efektifitas
proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika (Y). Kerangka logis hubungan
antara variable-variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Hubungan
Kompetensi Mengajar Dosen dengan Efektivitas Proses Pembelajaran kelompok Mata
Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari
tesis Yonas Muanley)
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kompetensi mengajar dosen
merupakan bagian integral yang menyatu dalam diri dosen untuk melaksanakan
tugas mengajar sehingga kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif.
Jika ditarik ke dalam konteks penelitian ini, para dosen yang
menghendaki terjadinya proses pembelajaran yang efektif hendaknya memiliki
sejumlah kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam hal ini kompetensi mengajar
dosen merupakan seperangkat karakteristik yang dimiliki seorang dosen sehingga
memungkinkannya mencapai tujuan pembelajaran yang dialami mahasiswa.
Karakteristik tersebut cendrung tidak tampak secara nyata, namun dapat diamati
secara berkesinambungan. Sesuai dengan persyaratan atau ketetapan yang telah
dinyatakan sebelumnya, terdapat 10 karakteristik kompetensi mengajar dosen. Dengan
memiliki karakteristik-karakteristik kompetensi mengajar tersebut, besar
kemungkinan dosen akan dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif.
Alasannya adalah bahwa karakteristik-karakteristik ini merupakan modal dasar
yang memungkinkan seorang dosen akan melaksanakan tugas mengajar secara
efektif.
Jika faktor kompetensi ini dikaitkan dengan efektifitas proses
pembelajaran maka kemampuan tersebut akan membuat seorang dosen mencapai tujuan
pembelajaran. Hal ini berarti bahwa makin tinggi kompetensi yang dimiliki dosen
maka besar pula kecendrungan untuk mencapai efektifitas proses pembelajaran.
Jadi semakin baik kompetensi yang dimiliki dosen semakin baik pula mencapai
tujuan pembelajaran.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dapat diduga bahwa
terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan efektifitas
proses pembelajaran (pencapai tujuan pembelajaran). Dengan kata lain, makin
tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektivitas proses pembelajaran
kelompok mata kuliah historika.
1.
Hubungan Motivasi Berprestasi Dosen dengan Efektifitas Proses
Pembelajaran Kelompok Mata
Kuliah Historika (Contoh rumusan hipotesis ini diambil dari
tesis Yonas Muanley)
Motivasi berprestasi merupakan keinginan dan kecendrungan seorang
dosen untuk melaksanakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan, baik oleh dosen itu sendiri maupun oleh lembaga
atau pihak lain. Dorongan ini terjadi secara internal dan merupakan dinamika
atau daya pendorong bagi setiap dosen, secara khusus dosen historika untuk
mengerjakan pekerjaan mengajar sebaik mungkin tanpa mempertimbangkan
imbalan-imbalan yang bersifat material yang akan diterimanya atau diberikan
oleh lingkungan di mana ia bekerja.
Apa yang dikatakan di atas menegaskan bahwa dosen historika yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul
dari yang lain, memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukup menantang atau
cukup moderat dan lebih tertarik kepada pencapaian pribadi atas hasil kerjanya,
mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin berhasil dalam situasi persaingan.
Dengan kata lain semakin tinggi motivasi berprestasi, semakin tinggi hasrat dan
kecendrungan seorang dosen mengerjakan pekerjaan mengajar sesuai dengan
standar-standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, motivasi berprestasi
merupakan daya pendorong yang mendasar bagi setiap dosen untuk melaksanakan
tugas mengajar sebaikmungkin, tanpa mengharapkan imbalan-imbalan eksternal yang
mungkin akan diperolehnya jika berhasil.
Dosen yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cendrung untuk
selalu berusaha unggul, memiliki kecendrungan memilih tugas mengajar yang
tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik pada pencapaian pribadi dari pada
imbalan yang diperoleh atas keberhasilannya, lebih tertarik pada situasi yang
dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan
pekerjaan mengajar sebaik mungkin. Ingin lebih berhasil dalam situasi
persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha, ingin
mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang dianngap penting, dan
menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
2.
Hubungan Kompetensi Mengajar Dosen, Motivasi Berprestasi Secara
Bersama-sama dengan Efektifitas Proses Pembelajaran Kelompok Mata Kuliah
Historika di Sekolah Tinggi Theologia .......... (diambil
dari Tesis Yonas Muanley)
Kompetensi mengajar diartikan seperangkat karekteristik yang
dimiliki seorang dosen sehingga memungkinkannya melakukan transfer pengetahuan
kepada para mahasiswa dan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki
mahasiswa tersebut secara lebih optimal dalam arti untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Karakteristik tersebut terkait erat dengan
kemampuan mentransfer pengetahuan dan membimbing peserta didik sehingga peserta
didik dapat memahami fenomena dirinya dan lingkungannya. Dengan memiliki
karakteristik-karakteristik ini, maka diyakini seorang dosen akan dapat
melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar dan sekaligus pendidik karena
karakteristik-karakteristik tersebut merupakan modal dasar yang mutlak dimiliki
seorang dosen agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Seperti yang diuraikan sebelumnya, untuk melaksanakan tugas
mengajar maka seorang dosen harus memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam
kompetensi mengajar dosen atau persyaratan profesionalisme dosen. Salah satu
dari persyaratan tersebut adalah memiliki ijazah pendidikan keguruan yang
formal atau memiliki akta mengajar. Dengan demikian orang yang menjadi dosen
telah dipersiapkan terlebih dahulu melalui pendidikan formal. Selain itu dosen
harus terus menerus belajar melalui literature atau sumber-sumber yang terkini
tentang aspek-aspek pengajaran sehingga ia terus menerus melengkapi diri dengan
kemampuan mengajar. Inilah yang disebut kompetensi menghajar dosen.
Pernyataan terakhir menegaskan bahwa upaya peningkatan kompetensi
mengajar dosen setelah melakukan tugas mengajar pada dasarnya terletak pada
diri dosen yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena ketika dosen melakukan
tugas mengajar mungkin ia tidak ada yang membimbingnya dalam arti ia harus
berusaha mengajar tanpa ada dosen senior yang mendampinginya oleh karena itu
pengembangan kemampuan mengajar dosen berpulang pada diri dosen tersebut. Jadi
salah satu alternatif yang dinilai efektif meningkatkan kompetensi mengajar
dosen ini terletak pada diri dosen.
Selain kompetensi yang diuraikan
diatas, motivasi berprestasi merupakan hasrat dan kecendrungan seseorang untuk
mengerjakan pekerjaan sebaik dan secepat mungkin sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan oleh individu itu sendiri maupun oleh orang lain. Ini terjadi
secara internal dan merupakan daya pendorong bagi setiap individu untuk
mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, tanpa mempertimbangkan imbalan-imbalan
yang bersifat material yang mungkin diberikan oleh lingkungan eksternalnya.
Orang yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi memiliki kecendrungan untuk lebih unggul dari yang lain
sehingga tugas yang dipilihnya tingkat kesulitannya moderat, lebih tertarik
pada pencapaian pribadi dan situasi yang dapat memberikan umpan balik secara
konkrit atas hasil kerjanya, mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, ingin lebih
berhasil dalam situasi persaingan, mengerjakan pekerjaan yang menghendaki
ketrampilan dan usaha, ingin mendapatkan pengakuan, mengerjakan tugas yang
dianggap penting, dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan baik.
Sementara
efektifitas proses pembelajaran adalah kelompok mata kuliah historika di
Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar adalah usaha dosen mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok
mata kuliah historika, yang berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok
materi kuliah mulai dari pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok
bahasan.
Efektifitas proses pembelajaran tidak lain adalah membandingkan
antara hasil atau prestasi yang diperoleh dengan tujuan atau pencapaian tujuan.
Ini berarti efektifitas menitikberatkan pada pencapaian tujuan atau hasil yaitu
membuat sesuatu yang benar didalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Disini efektifitas proses pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan
pembelajaran.
Efektifitas
proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika di Sekolah Tinggi Theologia
Injili Arastamar adalah usaha dosen menolong mahasiswa dengan prosedur
pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
dalam pembelajaran dalam kuliah kelompok mata kuliah historika, yang
berindikator: mahasiswa mengerti setiap pokok materi kuliah mulai dari
pendahuluan sampai bagian penutup dari setiap pokok bahasan.
Pencapaian tujuan pembelajaran dalam diri mahasiswa meliputi
perubahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), perubahan kemauan
(konatif) dan ketrampilan (psikomorik) serta psikospritual (= kemapuan
rohani/relasi dengan Tuhan/pertumbuhan rohani. Psikospritual = tambahan untuk
perubahan yang diharapkan dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi Teologi
Jurusan Teologi dan PAK Teologi Jurusan Teologi dan jurusan lainnya yang
dikenal dalam lingkungan Sekolah Tinggi Teologi).
Berdasarkan kerangka pemikiran
tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan yang positif antara
kompetensi mengajar dosen, motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama
dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan
kata lain, makin tinggi kompetensi mengajar dan motivasi berprestasi dosen,
maka makin tinggi pula efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah
historika.
Penilaian terhadap efektifitas
proses pembelajaran dalam penilitian ini dapat dilakukan oleh mahasiswa, dan
untuk menjaga objektivitas data yang diberikan maka dalam penelitian ini juga
akan diterapkan tehnik penilaian hal yang sama. Dan untuk membantu mahasiswa
dalam memberikan penilaiannya, instrumen pengukur yang digunakan dalam
penelitian ini disusun dalam bentuk angket dengan tehnik skala berjenjang
(ranting scale)
Contoh Perumusan
Hipotesis Penelitian (dari tesis Yonas Muanley)
Sesuai dengan kerangka
pikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut.
(1)
Terdapat hubungan positif antara kompetensi mengajar dosen dengan
efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata
lain, makin tinggi kompetensi mengajar dosen, makin tinggi efektifitas proses
pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(2)
Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dosen dengan
efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah historika. Dengan kata
lain, makin tinggi motivasi berprestasi dosen, makin tinggi efektifitas proses
pembelajaran kelompok mata kuliah historika.
(3) Terdapat
hubungan positif kompetensi mengajar dosen, dan motivasi berprestasi dosen
secara bersama-sama dengan efektifitas proses pembelajaran kelompok mata kuliah
historika. Dengan kata lain, semakin tinggi kompetensi mengajar dosen dan
motivasi berprestasi dosen secara bersama-sama, makin tinggi efektifitas proses
pembelajaran kelompok mata kuliah historika.




0 komentar: